RSS

ILMU BUDAYA DASAR DENGAN KESUSASTRAAN

22 Okt

PENDEKATAN KESUSASTRAAN
IBD, yang semula dinamakan Basic Humanities, berasal dari bahasa Inggris the humanities. Istilah ini berasal dari bahasa latin Humanus, yang berarti manusiawi, berbudaya, dan halus. Dengan mempelajari the humanities orang akan menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Jadi the humanities berkaitan dengan masalah nilai, yaitu nilai kita sebagai homo humanus. Untuk menjadi homo humanus, manusia harus mempelajari ilmu, yaitu the humanities, disamping tanggung jawabnya yang lain. Pada umunmya the humanities mencakup filsafat, teologi, seni dan cabang-cabangnya tennasuk sastra, sejarah, cerita rakyat, clan. sebaginya. Pada pokoknya semua mempelajari masalah manusia dan budaya. Karena itu ada yang menterjemahkan the humanities menjadi ilmu-ilmu kemanusiaan, ada juga yang menterjemahkan menjadi pengetahuan budaya.
Karena seni adalah ekspresi yang sifatnya tidak normatif, seni lebih mudah berkomunikasi. Karena tidak normatif, nilai-nilai yang disampaikannya lebih fleksibel, baik isinya maupun cara penyampaiannya.
Indonesia sebenarnya memiliki warisan sastra yang kaya raya, yang membuktikan bahwa bangsa ini sebenarnya pecinta sastra. Namun warisan sastra yang kaya raya ini tidak diperdulikan lagi oleh bangsa ini. Kita lebih banyak menimba nilai-nilai sastra dari peradaban-peradaban luar yang kita anggap membawa kemajuan peradaban. Kalau mau menjadi bangsa yang modern dan maju, kita harus berorientasi ke depan, yakni sastra yang berkembang di peradaban-peradaban maju pula.

1. Sastra Lisan
Sastra lisan berkembang di daerah perdesaan dalam bentuk cerita tutur. Fungsi jenis sastra ini adalah sebagai afirmasi sistem kepercayaan setiap suku di Indonesia. Kita menyebutnya sebagai mitos. Setiap sistem kepercayaan mana pun memiliki mitos-mitosnya sendiri. Inilah semacam “kita suci” mereka. Mitos-mitos asal-usul dunia (suku) dan manusia (suku) di berbagai daerah di Indonesia belum pernah kita kumpulkan.

2. Sastra Tulis Peradaban Hindu-Indonesia
Bangsa Indonesia memasuki zaman literer pada abad-abad awal milineum pertama, yakni ketika lembaga-lembaga kerajaan bermunculan di berbagai wilayah suku Indonesia. Berkembangnya sastra tertulis Hinduistik-Budistik di Indonesia berlangsung dari abad 9 sampai 16. Seperti sastra lisan etnik sebelumnya, jenis sastra ini juga mitologis, bagian dari kebudayaan-agama atau kepercayaan. Jenis sastra ini masih hidup di Bali dan menjadi pedoman etik masyarakatnya.

Sastra mitologis ini, seperti halnya sastra lisan, adalah untuk “dipertunjukkan” atau didengarkan, sehingga tidak mengherankan apabila banyak yang berbentuk puisi. Fungsi sastra ini adalah menghadirkan daya-daya transenden bagi berbagai kepentingan hidup sehari-hari mereka. Barang siapa membaca dan mendengarkan sampai selesai akan mendapatkan berkah. Karena dipercayai sebagai pembawa berkah, maka karya-karya sastra itu dinilai sakral juga. Dan karena sakral maka semua yang diceritakan di dalamnya mengandung kebenaran-kebenaran yang dijadikan pedoman membangun peradaban bersama.

5. Sastra Indonesia Setelah Kemerdekaan
Peran sastra modern Indonesia dalam pembentukan peradaban modern Idnoensia setelah kemerdekaan amat beragam. Tradisi sastra dalam peradaban primordial, Hindu, Islam di zaman kemerdekaan masih ada pendukungnya di masyarakat perdesaan, seperti terlihat dari pembacaan wawacan di Sunda. Tetapi tradisi sastra modern zaman kolonial mulai merosot pendukungnya. Karya-karya sastra tidak lagi menjadi kebutuhan kaum elit terpelajarnya, tetapi menyempit hanya pada mereka yang berminat pada sastra saja, biasanya calon-calon sastrawan.

Kalau Syahrir dahulu masih menganjurkan pentingnya membaca Benedetto Croce dan Soekarno menyebut Dante Alighieri dalam pidatonya, kini kaum elit budaya Indonesia tak kenal lagi sastra dunia atau sastra bangsa sendiri. Sastra tidak lagi menjadi kebutuhan nilai bagi hidup mereka. Sudah barang tentu mereka mengenal apa yang disebut sastra, dengan merujuk pada sastra populer yang memang berkembang sejak zaman kolonial. Sastra semacam ini mengandung nilai-nilai afirmatif yang tidak usah terlalu serius dibaca dari sastra tetapi langsung pada sumber-sumber ilmunya. Bagi mereka sastra adalah bagian dari pemenuhi kebutuhan klangenan atau relaksasi. Sastra sebagai bagian pembentuk peradaban tidak dikenal di kalangan kaum terpelajar sesudah kemerdekaan.

Kebutuhan sastra tentu masih tetap dibutuhkan oleh masyarakat modern Indonesia, terutama kaum terpelajarnya yang jumlahnya mencapai 20 persen jumlah penduduk. Namun jenis sastranya adalah sastra afirmasi yang mendukung dan memperkuat peradaban yang ada, jadi bukan evaluasi kritis terhadap peradaban. Itulah sebabnya jenis sastra laku keras di masyarakat. Fungsi sastra demikian itu mengingatkan pada peran sastra pra-modern Indonesia yang agamawi. Karya sastra dibaca untuk memperteguh tata nilai sosal yang sudah ada.
Referensi:
http://saiedbelajarngeblog.blogspot.com/
http://tree-network.blogspot.com/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 22, 2010 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: